Suara

Percakapan Dua Jurnalis yang Sudah Bisa Disebut Senior

Hero Image

Saya ingat istilah yang sering dipakai kawan saya seorang jurnalis Radar Lombok di tahun 2009, Surya Widi Alam dengan kode (wid). Saat kegiatan santai, tapi kadang diselingi kegiatan serius seperti wawancara atau dokumentasi, dia menyebutnya “ngotok-ngotok”. Ya bisa artinya jalan dengan tujuan kurang jelas, bisa juga berkunjung informal. Maka hari ini, Jumat (30/1/2026) saya ngotok-ngotok ke rumah kebun sahabat saya, Fathur Rozikin. Ya nama kami mirip.

2009

Mahasiswa itu membuat dirinya jadi perbincangan. Dia menggelar aksi demonstrasi malam hari. Biasanya aksi demonstrasi mahasiswa digelar pagi hingga siang hari. Tapi mahasiswa yang tergabung dalam PMII Lombok Timur itu demo hingga malam hari. Bisa dipastikan membuat pusing aparat keamanan. Kabag Ops Polres Lotim saat itu yang saya kenal cukup baik sempat curhat dengan aksi mahasiswa itu. Walaupun tidak ada aksi bar-bar, tetap saja aksi demonstrasi itu menjadi berita menarik. Setelah itu saya berkunjung ke sekretariat mereka, tak jauh dari bekas bioskop di Pancor, tak jauh dari pintu samping kampus Universitas Hamzanwadi (dulu namanya STKIP Hamzanwadi).

Mahasiswa yang sering disebut underbow NU itu sebagian besar mahasiswa Institut Agama Islam Hamanzawadi (IAIH) Pancor. Organisasi mahasiswa NU dibawah kampus NW. Dibandingkan dengan organisasi kemahasiswaan di bawah NW, mahasiswa dibawah bendera NU ini memang lebih sering aksi, lebih garang. Karena itu mereka kerap menjadi media darling. Kami berkenalan saat itu. Hubungan antara wartawan muda dengan mahasiswa tua yang tak kunjung diwisuda.

Mahasiswa itu diwisuda. Suatu hari Radar Lombok membuka lowongan untuk wartawan. Saya menghubunginya dan memintanya bergabung. Salah satu senior kurang setuju jika dia masuk, tapi saya memberikan masukan, justru wartawan itu butuh aktivis. Jejaring informasinya luas, lebih nekat dibandiingkan mahasiswa biasa, dan tahan banting. Ini saya tekankan, karena media tempat saya bekerja saat itu, Lombok Post dan grupnya Radar Lombok, Radar Sumbawa, Radar Tambora seringkali kesulitan mencari jurnalis baru yang tahan banting. Ada yang hanya bertahan seminggu, sebulan, tiga bulan. Kawan saya ini, saya yakin, akan tahan banting.

Perkiraan saya tidak meleset. Selain tahan banting, ya dia cukup berani menulis keras pada zaman itu. Nyerempet kiri-kanan, yang kadang saya juga kurang setuju. Istilahnya terlalu vulgar. Sering kami berdebat. Panas-panasan, tapi ya berakhir dengan minum kopi bersama. Namanya saja anak muda usia 20-an tahun yang pernuh jiwa memberontak.

Pada masa-masa itu adalah kejayaan koran. Tidak ada isu tanpa membaca koran. Jika belum naik koran, belum sah rasanya menjadi tokoh. Kawan itu senang dengan isu politik. Maka dia cukup lama berkecimpung menjadi jurnalis yang menulis di isu-isu politik.


Fathul Rakhman dan Fathul Rozikin

2026

Aroma ini tidak asing bagi penciuman saya. Kotoran ayam. Di rumah orang tua saya di Lombok Timur, berdiri kandang ayam. Dikelola oleh adik dan bapak saya. Dulu kandang itu dikelola juga oleh kakek dan paman saya. Beberapa tahun lalu mereka meninggal dunia. Ayam yang dipelihara berganti-ganti. Ayam potong. Ayam pejantan. Ayam petelur. Jatuh bangun saat gempa dan covid-19, sampai sekarang kandang ayam itu masih tetap beroperasi. Setiap pulang ke rumah orang tua, ya harus menikmati bau kotoran ayam itu.

Berdasarkan insting itu saya menemukan kandang ayam dan rumah kebun kawan itu. Google maps tidak selamanya tepat 100 persen. Manfaatkan GPS (Gunakan Penduduk Setempat) adalah langkah berikutnya.

“Permisi bu, saya mencari rumah teman saya. Namanya Rozikin. Rumahnya sekitar sini”

Ibu berusia sekitar 30-an tahun itu menggumang. Menyebut ulang nama itu.

“Saya tidak tahu nama itu”

“Dia punya kandang ayam” kata saya melanjutkan

“Oh iya di kebun itu ada orang pelihara ayam. Tapi saya tidak tahu namanya” kata ibu itu

Di gang masuk saya bertemu perempuan tua. Sekitar 60 tahun. Saya bertanya dengan bahasa Sasak

“Inaq tiang beketuan. Tiang mete balen batur aran Rozikin”

Ibu itu hanya diam

“Nama lengkapnya Fathur Rozikin”

“Oh Fathur. Tie lek atas. Laguk ye masih sugul bejumat, nde man tulak”

Saya menemukan tanah dikelilingi tembok batako. Saya menginting dari lubang kunci. Saya mencium aroma kotoran ayam. Tidak salah. Saya foto dan mengirimkannya ke kawan itu.

“Saya sudah dekat” jawabnya.

Saya ngobrol dengan inaq pemintal tali. Dia memintal ijuk yang diambil dari batang aren. Dia melilitkanya pada bambu. Saat saya mengeluarkan HP untuk mengambil foto, dia memasang aksi. Mengambil jilbab dan menunjukkan cara memintal. Satu gulung dijual Rp 15.000. Ada pembeli dari Gunungsari.

Saya melihat motor kawan itu. Saya pamit. Sebelum inaq pemintal ijuk hendak memasak air untuk membuat kopi.


Kandang Ayam 2026

“Wuih gemukan sekarang bro” komentar kawan itu. Singkat

Jika menyebut tubuh – seperti gemuk, buncit seringkali dianggap tidak sopan, body shaming, entah kenapa saya biasa saja. Kawan itu berkomentar “pasti jarang olahraga sekarang”

Kami duduk. Lalu dia memasak air. Saya berpesan segara bikin kopinya.


Kami mendiskusikan Sungai Meninting, tapi belum saya tulis di dalam artikel ini.

2019

Saya mendengar kawan itu diberhentikan dari tempatnya bekerja. Saya mengkonfirmasi dia mengundurkan diri. Saya tidak ingin mengorek lebih dalam. Kawan itu memegang media baru. Koran. Milik politisi pendatang baru. Naik menjadi DPD berkat dukungan saudaranya yang menjadi bupati. Saya kenal baik. Saya diajak bergabung. Saya menolak karena tidak sempat mengurus media. Tapi jika membutuhkan bantuan saya bisa. Beberapa tulisan pernah saya bantu edit. Lalu lama tak terdengar kabar kawan itu. Bisnis media seperti koran bukan sudah kehilangan masa keemasannya.

Media semakin banyak. Online. Cetak semakin mahal. Semakin berkurang pelanggan. Semakin berkurang halaman. Bergantung pada kerjasama pemerintah daerah tak akan mampu menopang bisnis media cetak. Lalu tak ada lagi kabar media itu. Saya pun tak mencari tahu dan kehilangan kontak dengan kawan itu.


2021

Saya bertemu kembali. Dia membuat media baru. Media online. Dia sesumbar : media pertama di Lombok yang akan fokus pada isu lingkungan dan budaya. Saya mengangguk. Membaca beberapa berita yang dimuat. Saya setuju jika media barunya itu memuat banyak isu lingkungan. Beberapa kali saya membaca liputannya. Renyah. Gaya menulisnya masih sama. Saya sibuk dengan tugas baru di Geopark Rinjani. Sesekali bertemu kawan itu. Lalu seperti ditelan bumi.

 

2026

Jika seorang kawan yang lama tak bertemu, maka yang didiskusikan adalah kehidupan kawan-kawan lama. Kami bergosip. Tentang kawan yang kini menjadi lebih religius. Tentang kawan yang masih suka “ngotok-ngotok”. Tentang kawan yang sudah meninggal dunia. Tentang dunia media yang berubah cepat.

 Kawan ini berbicara tentang realitas hari ini. Media online mengandalkan hidup dari iklan google yang tidak seberapa. Iklan dari mitra ? sangat sulit. Media hari ini, jika tidak ada bohir di belakangnya, atau bukan bagian koporasi besar, akan cepat menggali lubang kematian. Kawan ini sudah meninggalkan dunia media secara total sejak 2022. Dia tidak menulis berita. Namanya masih ada di media online yang dia dirikan, tapi tidak aktif. Alih-alih menyuarakan kegelisahannya melalui media itu, dia malah memilih facebook. Seperti emak-emak FB Pro, kawan ini rajin bikin video.

“Saya ingin menyuarakan isu lingkungan bro. Media sosial lebih efektif sekarang”

Saya setuju dengan pernyataannya. Media mainstream pun membuat akun media sosial. Memindahkan berita dari saluran resmi mereka ke media sosial. Ketika berita itu berdampak, bukan karena orang berkunjung ke websitenya. Tapi karena postingan media sosial.

Pembicaraan kami mulai berat. Tentang tata kelola lingkungan. Tentang masalah yang ada di sekitar kami. Tentang banjir di Sekotong, banjir di Kuta Mandalika. Tentang masalah sampah di Sembalu. Tentang konflik air di beberapa lokasi.

Masalah lingkungan tidak berdiri sendiri. Menyelesaikannya tidak bisa sendiri. Kita bukan Superman. Masalah banjir yang akhir-akhir ini sering terjadi adalah dampak.


2016 - 2026

Kata saya, usia produktif jurnalis di lapangan itu adalah 30-an, maksimal 35 tahun. Setelah itu akan menurun stamina. Sudah mulai bosan.

Mungkin itu yang dirasakan kawan itu. Pada tahun 2016 saat puncak semangat menjadi jurnalis dia mulai melirik ke hal lain. Investasi di tanah. Membeli kebun yang pada saat itu belum ada jalan. Murah meriah. Dibiarkan begitu saja. Kering. Tidak ada tanaman produktif. Hingga kemudian dia mencoba membangun kandang ayam.

Ala-ala slow living. Sesekali jadi konten. Kotoran ayam itu yang digunakan memupuk tanah. Tanah jadi subur. Tanaman di kebun warga jadi subur. Semakin lebat buahnya. Kini di 2026 ini, kawan ini berbagi kotoran ayam. Dia menelpon seorang juragan yang akan menanam durian. Kawan ini menawarkan kotoran ayam. Saat kotoran ayam berlimpah. Dia sebar ke kebun-kebun warga sekitar. Warga tidak keberatan. Malah senang. Dapat pupuk gratis.

Ide baru muncul di kawan ini: berbagi pupuk kandang.

“Di era AI menulis seperti dulu bukan lagi kemewahan. AI menggerus. Tapi ada kerja-kerja tangan yang tidak bisa digantikan oleh AI. Seperti yang dilakukan kawan saya ini”

Saya mengucapkan itu saat kami nongkrong di Bendungan Meninting.

Dia setuju.


Fathul Rakhman

Fathul Rakhman

Penulis

"Fathul Rakhman telah menjadi jurnalis sejak 2008 untuk media lokal di Nusa Tenggara Barat. Sejak 2018 hingga kini, ia berkontribusi untuk Mongabay Indonesia. Ia memiliki minat dalam isu-isu lingkungan, pendidikan, budaya, dan keragaman. Fathul pernah menjabat sebagai komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) di Nusa Tenggara Barat dan saat ini menjabat sebagai Manajer Pendidikan dan Budaya di Rinjani Lombok UNESCO Global Geopark. Ia telah menerbitkan beberapa buku, termasuk “NTB Rawan Bencana”, “Sejarah Singkat Perjuangan Lombok Timur”, dan “Kisah dari Kaki Rinjani”."

Artikel Favorit Untuk Anda