Semangat Literasi dari Desa Pesisir Kilo
Pagi itu angin dari laut berembus pelan di pesisir Desa Kilo, Kabupaten Dompu. Anak-anak berlarian di tepi pantai, sebagian bermain pasir, sebagian lagi duduk bergerombol di bawah bayang pohon. Di antara mereka, seorang gadis kecil berjalan dengan keranjang plastik di atas kepala.
“Pak, boleh saya bawa pulang bukunya?” pintanya pelan.
Keranjang itu berisi beberapa jenis makanan ringan: sosis, snack, dan botol saus kecil. Sekilas saya mengira itu bekal untuk piknik bersama teman-temannya. Apalagi hari itu memang hari bermain di pantai.
“Saya jualan,” katanya singkat.
Usianya masih sekolah dasar. Namun, dari keranjang yang ia bawa, tampak jelas bahwa ia sudah belajar tentang kerja sejak dini. Ia menjual es, makanan ringan, cilok, gorengan, dan minuman makanan yang disukai anak-anak seusianya.
Di sekolah, ia berjualan saat jam istirahat. Barang dagangannya dibawa dari rumah ketika berangkat pagi. Saat pulang, yang ia bawa adalah uang hasil jualan. Kadang dagangannya habis. Kadang masih tersisa.
Pada hari libur, terutama Minggu, ia berjualan di pantai. Saat pengunjung lebih ramai dari biasanya, barang dagangannya pun lebih banyak. Pembelinya kebanyakan anak-anak yang juga sedang bermain, sebagian adalah teman-teman sekolahnya sendiri.
“Tidak malu?” saya bertanya.
Ia hanya menggeleng, lalu tersenyum.

Anak-anak yang berjualan saat istirahat jam sekolah
Lapak buku di pesisir
Kisah itu terjadi pada Januari 2020. Saat itu saya datang ke Desa Kilo untuk mengikuti kegiatan konservasi pesisir. Pada waktu yang sama, saya juga berencana mengadakan kegiatan kecil tentang literasi dan edukasi penyiaran di sekolah setempat.
Ketika itu saya masih menjadi komisioner di Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Nusa Tenggara Barat.
Karena akan tinggal beberapa hari di desa tersebut, saya membawa satu tas penuh buku. Sebagian saya beli sendiri. Sebagian lagi kiriman dari teman-teman yang juga peduli pada literasi.
Biasanya buku-buku itu berkeliling di berbagai tempat di Pulau Lombok. Namun kali itu saya membawanya menyeberang ke Pulau Sumbawa, tepatnya ke pesisir Desa Kilo. Seorang teman yang mengajak saya datang ke sana mengatakan bahwa banyak anak-anak yang bermain di pantai pada sore hari. Dari situ muncul ide sederhana: membuka “lapak baca” di pinggir pantai.
Saya menata buku-buku itu di atas tikar. Awalnya, anak-anak hanya melihat dari jauh. Mereka berdiri bergerombol, malu-malu mendekat. Saya kemudian memanggil gadis kecil yang sedang berjualan itu. Saya membeli beberapa gorengan dari keranjangnya. Ia duduk sebentar dan membuka salah satu buku.
Tak lama kemudian, ia memanggil teman-temannya.
Perlahan-lahan anak-anak mulai berdatangan. Mereka awalnya ragu. Namun setelah beberapa menit, rasa malu itu berubah menjadi kegembiraan. Buku-buku itu berpindah tangan. Anak-anak mulai saling berebut membaca. Pantai yang tadinya riuh oleh suara ombak dan permainan, tiba-tiba dipenuhi anak-anak yang asyik menekuri halaman buku.

Membaca buku bersama
Permintaan sederhana
Di tengah keramaian kecil itu, gadis yang berjualan tadi kembali mendekati saya.
Ia bertanya dari mana saya datang.
“Saya dari Mataram,” jawab saya, menyebut kota di Mataram.
Saat itu saya menginap di rumah seorang warga yang dikenal anak-anak di desa tersebut.
“Om Nasrin Teh Kidom?” ia memastikan.
Saya mengangguk. Ia mengenalnya.
Kemudian dengan sopan ia bertanya lagi, “Pak, berapa lama di sini?”
Saya memahami arah pertanyaannya.
Ia ingin meminjam buku itu untuk dibawa pulang, lalu mengembalikannya nanti.
Awalnya memang saya hanya berniat membuka lapak baca sementara. Setelah kegiatan selesai, buku-buku itu akan saya bawa kembali. Namun mendengar pertanyaan gadis kecil itu, rencana tersebut berubah. Saya menyerahkan semua buku yang ada di tas.
“Buku ini kalian bawa pulang saja,” kata saya.
Mereka tampak terkejut.
“Satu syaratnya,” saya menambahkan. “Nanti dipinjamkan juga ke teman-teman yang lain.”
Sore itu berubah menjadi pesta kecil bagi anak-anak di pantai Kilo. Sebelum bubar, kami berkumpul sebentar. Saya mentraktir mereka membeli kue dan es, tentu saja dari keranjang jualan gadis kecil itu.

Menanam mangrove bersama para pelajat
Menanam Harapan
Nama gadis kecil itu kini sudah samar dalam ingatan saya. Yang saya ingat hanya bahwa ia bersekolah di sebuah SD dekat laut, di Desa Kilo, Kabupaten Dompu.
Sebelum berpisah, saya mengajak mereka datang ke kegiatan esok hari. Kami akan menanam mangrove.
Keesokan paginya, beberapa dari anak-anak itu benar-benar datang. Termasuk gadis kecil penjual makanan itu. Mereka membantu mengangkat bibit mangrove yang akan ditanam di pesisir.
Kegiatan itu bagian dari upaya kecil untuk merawat kawasan pantai di desa tersebut. Pesisir Kilo dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami abrasi. Air laut perlahan menggerus garis pantai. Mangrove menjadi salah satu cara alami untuk menahan laju kerusakan itu.
Namun menanam mangrove bukanlah pekerjaan sekali selesai. Saya tidak tahu bagaimana kondisi mangrove yang kami tanam saat itu. Bisa jadi sebagian tumbuh. Bisa juga banyak yang gagal. Menanam mangrove tanpa perawatan rutin memang kecil kemungkinan berhasil seluruhnya. Bahkan jika dirawat pun, belum tentu semua bibit akan bertahan hidup. Namun tidak menanam sama sekali karena takut gagal juga bukan pilihan. Menanam mangrove adalah bentuk ikhtiar. Ikhtiar kecil untuk menyelamatkan lingkungan.
Benih yang Tak Selalu Terlihat
Hal yang sama juga berlaku pada kegiatan literasi yang kami lakukan. Membuka lapak buku di pantai mungkin tidak akan langsung mengubah kualitas pendidikan. Dampaknya mungkin sangat kecil terhadap angka literasi dan numerasi anak-anak sekolah dasar.
Namun dari pengalaman selama ini, sering kali perubahan besar berawal dari peristiwa yang tampak sederhana. Jejaring teman-teman pegiat literasi menjadi semacam pengingat akan hal itu.
Ada kawan yang dulu ikut kegiatan literasi ketika masih duduk di bangku SD. Sekarang ia sudah kuliah dan menjadi penggerak kegiatan membaca di kampungnya. Ada juga yang dulu ikut kegiatan saat masih SMP atau SMA. Kini mereka menjadi guru dan mulai menghidupkan kegiatan literasi di sekolah tempat mereka mengajar.
Bahkan ada seorang anak yang dulu berpikir bahwa setelah lulus SMP ia akan berangkat merantau ke Malaysia untuk bekerja. Namun perjalanan hidup membawanya ke arah lain. Ia kini melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri.

Yuk tanam mangrove sekarang juga
Lingkaran Pengabdian
Hal-hal kecil yang dilakukan para pegiat literasi sering kali tidak terlihat besar dari luar. Membawa satu tas buku. Membuka lapak baca di pinggir pantai. Mengajak anak-anak menanam mangrove. Namun bagi banyak orang, langkah-langkah kecil itu adalah cara untuk mengabdi pada daerahnya.
Cara sederhana untuk berterima kasih atas ilmu yang dulu mereka terima dari guru, dari senior, dan dari para pegiat literasi yang lebih dulu berjalan di jalur yang sama. Seperti roda yang terus berputar, semangat itu bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itulah, mengapresiasi hal-hal kecil yang dilakukan generasi yang lebih muda menjadi penting. Pengalaman-pengalaman kecil itu akan menjadi bagian dari catatan perjalanan hidup mereka.
Mungkin suatu hari nanti, salah satu dari anak-anak yang membaca buku di pantai Kilo akan mengingat momen itu. Lalu melakukan hal yang sama, membuka buku, menanam pohon, atau menyalakan harapan di tempat lain. Sama seperti gadis kecil yang pernah berjualan gorengan sambil membaca buku di tepi pantai Dompu. Sebuah semangat kecil dari Kilo.
Artikel Favorit Untuk Anda
TNGR dan Geopark Rinjani Mantapkan Persiapan Pemilihan Putri Rinjani
Lebaran Topat: Momen Membayar Nazar Masyarakat Lombok