Menjelajah Sumbawa Bersama Adventurous Sumbawa
MALAM itu Kota Sumbawa diguyur hujan disertai angin kencang. Di sebuah rumah yang temboknya belum diplester, sejumlah anak muda terlihat cemas. Dari obrolan, keesokan paginya mereka harus berangkat menuju Poto Tano, Sumbawa Barat. Dari Poto Tano, mereka berencana akan snorkeling di Pulau Kenawa, salah satu gugusan pulau kecil yang terlihat jika merapat ke Pelabuhan Poto Tano.
Kopi hitam panas dan pekat mencairkan suasana malam itu. Kegelisahan rencana yang akan tertunda lantaran hujan besar mulai reda. Dari obrolan, mereka berandai-andai, jika hujan terus sampai siang, perjalanan akan dialihkan ke lokasi yang terdekat. Sumbawa tidak kekurangan destinasi.
Diantara obrolan yang menggunakan bahasa Sumbawa, bahasa Indonesia itu, sesekali obrolan dalam bahasa Inggris. Ya, kebetulan malam itu seorang pria asing ikut dalam kelompok itu. Dia mengenalkan diri dari Latvia. Negara bekas Uni Soviet. Negara yang masih asing di telinga anak-anak muda yang diskusi malam itu.
Tamu bule dari Latvia itu menjadi tamu spesial malam itu. Dia belajar menikmati masakan khas Sumbawa. Dia juga terbiasa makan nasi goreng. Di negaranya, roti dan kentang adalah makan setiap hari.
Suasana semakin cair ketika tuan rumah, bang Jhon, kembali ke rumah. Pria berambut ikal itu membawa oleh-oleh setumpuk batu akik. Belum diasah. Dia baru saja pulang dari air terjun Sebra yang terletak di kawasan pegunungan Desa Marente, Kecamatan Alas Barat, Kabupaten Sumbawa.
Orang-orang yang menginap di rumah bang Jhon malam itu, bahkan sejak dua malam sebelumnya, berasal dari beberapa daerah. Ada yang dari Bima, Sumbawa Barat, Jawa Barat, termasuk saya. Begitu juga dengan tamu bule itu. Rupanya dia sudah 2 malam menginap di rumah yang terletak di Kerato, Unter Iwes itu.
“Rumah ini jadi rumah singgah. Siapapun boleh menginap. Asalkan mau tidur seadanya,’’ kata tuan rumah
Jhon tidak banyak mengobrol. Malam itu dia langsung mengasah batu akik yang dia bawa dari Desa Marente. Dia hendak membuat kalung dan cincin dari batu akik berwarna kekuning-kuningan itu.
“Ini untuk mas yang dari Bandung. Besok pagi dia mau balik,’’ katanya langsung mengambil gerinda, alat pengasah batu akik.
Suasana seperti malam itu sudah biasa di rumah bang Jhon. Hampir setiap malam selalu ada yang menginap di rumahnya itu. Orang-orang yang menginap itu sebagian besar tidak dikenal bang Jhon. Mereka justru berkenalan ketika tamu itu menginap di rumah. Tamu-tamu yang menginap itu adalah kenalan dari anak-anak muda yang tergabung dalam Adventurous Sumbawa.
“Mas sudah menjadi anggota keluarga kami, sudah mencicipi kopi di rumah,’’ kata pria yang sehari-hari bekerja lepas sebagai tukang servis elektronik ini.
Ya, rumah bang Jhon itu kemudian dikenal sebagai rumah singgah. Para tamu yang datang menginap di rumahnya adalah para penjelajah yang akan menjajal Sumbawa. Mereka umumnya para backpacker. Mereka menginap di rumah penduduk atau di tempat penginapan murah. Bagi mereka, yang utama adalah destinasi yang dikunjungi.
Para tamu yang menginap itu, berkenalan dengan bang Jhon melalui media sosial. Sebenarnya, mereka berkenalan dengan grup Adventurous Sumbawa. Di media sosial facebook, setiap hari anggota komunitas itu mengabarkan tentang pariwisata. Mereka juga secara mandiri menginformasikan pariwisata Sumbawa dan Sumbawa Barat. Jika ada yang tertarik, mereka akan dikontak. Kemudian di grup Adventurous Sumbawa akan menanggapi. Siapa yang akan mengantar, siapa yang bisa disinggahi rumahnya.
“Kami kenalan dari facebook,’’ kata Hana, salah seorang wisatawan dari Batam yang berlibur ke Pulau Kenawa, Sumbawa Barat.
Para wisatawan yang datang ke Sumbawa dan Sumbawa Barat sebagian besar boleh diklaim sebagai “tamu” Adventurous Sumbawa. Sebagian besar promosi pariwisata dilakukan melalui facebook. Sebagian twitter. Kekuatan sosial media inilah yang dimanfaatkan Adventurous Sumbawa. masing-masing anggotanya, yang jumlahnya 100 orang lebih, memiliki jaringan pertemanan di facebook. Akhirnya para teman-teman anggotanya itu menjadi anggota Adventurous Sumbawa. Seperti tamu dari Latvia, negara jauh bekas Uni Soviet itu tahu Sumbawa dari teman facebooknya yang bergabung di Adventurous Sumbawa.
“Saya sering bawa tamu dari Jerman. Kami kenalan di facebook,’’kata Takwa Sajidin, Ketua Adventurous Sumbawa.
Apa yang dilakukan komunitas Adventurous Sumbawa itu murni untuk mengenalkan pariwisata Sumbawa. Belakangan juga getol mempromosikan Dompu dan Bima, setelah Tambora Menyapa Dunia (TMD) digaungkan. Bahkan ketika puncak TMD di Doro Ncanga, Kabupaten Dompu, tidak sedikit wisatawan dari luar NTB yang meminta bantuan anggota Adventurous Sumbawa untuk mengantar. Mereka berkenalan lewat facebook, saling tukar nomor telepon, janjian bertemu, lalu berpetualang bersama. Keluargar baru Adventurous Sumbawa telah bergabung.
“Bisa ribuan kalau dihitung semua,’’ kata Takwa menyebutkan orang-orang yang pernah ikut berpetualang bersama Adventurous Sumbawa.
Selalu Ada Teman Menjelajah
Para tamu yang menginap itu, berkenalan dengan bang Jhon melalui media sosial. Sebenarnya, mereka berkenalan dengan grup Adventurous Sumbawa. Di media sosial facebook, setiap hari anggota komunitas itu mengabarkan tentang pariwisata. Mereka juga secara mandiri menginformasikan pariwisata Sumbawa dan Sumbawa Barat. Jika ada yang tertarik, mereka akan dikontak. Kemudian di grup Adventurous Sumbawa akan menanggapi. Siapa yang akan mengantar, siapa yang bisa disinggahi rumahnya.
Para wisatawan yang datang ke Sumbawa dan Sumbawa Barat sebagian besar boleh diklaim sebagai “tamu” Adventurous Sumbawa. Sebagian besar promosi pariwisata dilakukan melalui facebook. Sebagian twitter. Kekuatan sosial media inilah yang dimanfaatkan Adventurous Sumbawa. masing-masing anggotanya, yang jumlahnya 100 orang lebih, memiliki jaringan pertemanan di facebook. Akhirnya para teman-teman anggotanya itu menjadi anggota Adventurous Sumbawa. Seperti tamu dari Latvia, negara jauh bekas Uni Soviet itu tahu Sumbawa dari teman facebooknya yang bergabung di Adventurous Sumbawa.
“Saya sering bawa tamu dari Jerman. Kami kenalan di facebook,’’kata Takwa Sajidin, Ketua Adventurous Sumbawa.
Apa yang dilakukan komunitas Adventurous Sumbawa itu murni untuk mengenalkan pariwisata Sumbawa. Belakangan juga getol mempromosikan Dompu dan Bima, setelah Tambora Menyapa Dunia (TMD) digaungkan. Bahkan ketika puncak TMD di Doro Ncanga, Kabupaten Dompu, tidak sedikit wisatawan dari luar NTB yang meminta bantuan anggota Adventurous Sumbawa untuk mengantar. Mereka berkenalan lewat facebook, saling tukar nomor telepon, janjian bertemu, lalu berpetualang bersama. Keluargar baru Adventurous Sumbawa telah bergabung.
“Bisa ribuan kalau dihitung semua,’’ kata Takwa menyebutkan orang-orang yang pernah ikut berpetualang bersama Adventurous Sumbawa.
Takwa sendiri yang berpforesi sebagai pemandu wisata dan memiliki travel, tidak murni mengkomersilkan paket wisata yang ditawarkan. Bagi yang ingin memanfaatkan jasanya, Takwa tidak mematok harga. Bahkan lebih sering gratis. Tapi jika ada wisatawan yang ingin memanfaatkan jasanya, Takwa juga meladeni.
Dalam menjalakan aktivitas liburan bersama, anggota Adventurous Sumbawa biasanya menginformasikan di grup mereka. Bagi yang tertarik akan didata. Biasanya akan ada anggota yang menawarkan diri sebagai penanggungjawab. Dialah yang menjadi penunjuk jalan. Kadang juga, bertindak sebagai panitia sibuk. Dalam perjalanan seperti ini, anggota yang akan ikut liburan saweran untuk membeli logistik.
“Sudah dua tahun ini saya rutin membawa tamu kapal pesiar,’’ kata Takwa tentang bisnis yang dijalankannya.
Takwa beberapa kali diajak untuk membisniskan Adventurous Sumbawa. Dia juga pernah diundang untuk membentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sumbawa. Tapi Takwa menolak jika komunitas pejalan itu dikomersilkan. Tapi jika ada anggota yang kebetulan memiliki usaha wisata promosi lewat Adventurous Sumbawa, Takwa tidak melarang. Begitu juga dengan rencana pembentukan BPPD, menurut Takwa, BPPD tidak lebih dari birokrasi. Kalau pemerintah benar-benar serius menggarap pariwisata, bisa dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar).
“Pemerintah cukup membangunkan fasilitas yang memadai ke destinasi itu. Biar kami yang bantu mempromosikan,’’ katanya.
Dalam dunia digital, promosi melalui sosial media memang efektif. Ini terbukti dengan banyaknya wisatawan asing yang datang ke Sumbawa. Ada yang numpang menginap di rumah singgah, ada yang menginap di hotel, ada yang menginap di rumah warga.
Latih Masyarakat Mengelola Destinasi, Siapkan Buku Destinasi Sumbawa
Forum diskusi di facebook itu cukup ramai. Salah seorang anggota memposting foto sampah yang di air terjun Agal, Desa Marente, Kecamatan Alas. Berbagai cibiran muncul. Sumpah serapah dikeluarkan. Semua anggota yang ikut dalam diskusi itu menentang sampah yang ditinggalkan pengunjung.
Debat mengalir. Banyak tawaran solusi. Mulai dari cara keras, cara lunak, hingga perlunya membuatkan aturan agar Agal lebih terkelola dengan baik.
Lain waktu, di grup Adventurous Sumbawa diposting suasana pertemuan di kantor Desa Marente. Di dalam foto itu dijelaskan, anggota komunitas Adventurous Sumbawa sedang berdikusi dengan karang taruna, tokoh pemuda, staf desa, dan tokoh masyarakat. Bahasan hari itu, bagaimana mengelola potensi pariwisata di kawasan pegunungan itu.
Ketika saya berkunjung ke Marente, apa yang didiskusikan di grup itu ternyata terbukti. Misalnya terkait pengelolaan kawasan wisata Marente. Masyarakat kini lebih siap menjadi tuan rumah yang baik. Kini sudah ada organisasi pemandu (guide), rute ke lokasi-lokasi wisata sudah terpasang dengan baik. Tempat parkir kendaraan sudah tersedia. Semuanya itu dibangun secara swadaya oleh masyarakat.
“Memang kami ajak masyarakat untuk menjadi pelaku wisata di rumah mereka,’’ kataTakwa Sajidin.
Dengan dana “saweran” Adventurous Sumbawa menggelar pelatihan pengelolaan pariwisata. Mereka juga mendekati para tokoh masyarakat di tempat itu. Para tokoh diberikan gambaran manfaat pariwisata. Sebab di beberapa tempat, kadang tuan rumah mereka risih dengan banyak orang datang. Atau mereka tidak bisa mengambil manfaat dari orang yang datang. Pengalaman ini pernah dilakukan di Desa Mantar, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Kini, di desa itu, masyarakat menyiapkan rumah mereka sebagai tempat menginap tamu.
“Masyarakat menjadi tuan di rumah sendiri,’’ kata Takwa.
Selain melatih, Adventurous Sumbawa juga membantu penguatan kelembagaan. Misalnya saja Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), yang sebenarnya program Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Di Desa Marente, Pokdarwis yang ada justru dibantu oleh Adventurous Sumbawa. Belakangan barulah diwacanakan akan mengundang pemerintah dalam kegiatan mereka. Bagaimana pun juga, akses menuju destinasi di Desa Marente itu butuh dukungan pemerintah. Akses jalan dan lampu penerangan sangat dibutuhkan.
Menurut Takwa, jika masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi wisata itu diberdayakan, mereka akan mendapat manfaat dari keindahan alam di tempat mereka. Manfaat ekonomis yang didapatkan membuat masyarakat dengan sendirinya sadar untuk menjaga kelestarian desa mereka. Itu bisa dilihat ketika sampah yang menumpuk di tempat-tempat wisata dibersihkan sendiri oleh masyarakat.
Selain aktif mempromosikan pariwisata di dunia maya, Adventurous Sumbawa juga tetap promosi secara langsung. Takwa sendiri, sudah dua tahun bekerjasama dengan biro perjalanan wisata yang cukup besar. Dia berani memegang tanggungjawab untuk mengantar dan melayani tamu untuk kawasan Nusa Tenggara. Kebetulan perusahaan rekanannya itu ada di Bali. Beberapa tamu yang berkunjung ke Lombok, Sumbawa, hingga NTT sudah sering dibawa Takwa.
“ Dua kapal pesiar besar sudah menjadi langganan kami,’’ katanya.
Sayangnya, kegiatan komunitas yang membantu mempromosikan pariwisata Sumbawa ini kurang perhatian pemerintah. Terkesan pemerintah takut disaingi, dan menghalang-halangi. Beberapa waktu lalu tamu para anggota Adventruous Sumbawa berkunjung ke Sumbawa. Karena banyak mereka menyewa bus. Tapi begitu berkunjung ke Istana Dalam Loka, parkir bus mereka dipersulit. Pemerintah yang bertanggungjawab soal parkir, terkesan mencari alasan agar wisatawan itu tidak nyaman berlibur di Sumbawa.
“Padahal kami bawakan wisatawan,’’ katanya.
Begitu juga dengan buku destinasi pariwisata yang disusun anggota Adventurous Sumbawa. Setidaknya sudah ada 75 destinasi yang ditulis, lengkap dengan foto dan videonya. Pernah dicetak secara mandiri. Tapi karena keterbatasan dana, akhirnya cetakan tidak maksimal. Padahal kualitas foto dan video yang dibuat jauh lebih bagus dari produk promosi yang dibuat pemerintah. Tidak sedikit anggota Adventurous Sumbawa adalah fotografer profesional.
Artikel Favorit Untuk Anda
Cara Nelayan Labuhan Sangoro Sumbawa Menyelamatkan Ikan dengan Gerai dan Gotong Royong
Civil Society Groups Join Forces to Address Pollution from Energy Industries